SUSU KAMBING BUKAN SEMBARANG SUSU

SUSU KAMBING BUKAN SEMBARANG SUSU

dr.Mohammad Ali Toha Assegaf,Ahli Pengobatan Tradisional nabawiy

 

Diantara macam-macam susu yang biasa diminum manusia yang terbaik adalah susu kambing karena sifatnya lembut, paling mudah dicerna . Susu kambing merupakan makanan yang bersifat netral  yaitu tidak panas dan tidak dingin . Sementara susu domba bersifat panas, sedangkan susu sapi membuat orang menjadi gemuk . Susu kambing mempunyai sifat lembut dan mudah dicerna, baik orang yang terkena sakit lambung. Beberapa penelitian juga meyebutkan bahwa susu kambing  hypoallergenic (kemungkinan efek allergynya kecil) . Demikian pula kasus allergy susu kambing jauh lebih sedikit dibandingkan orang yang allergy protein susu lainya. Angka diare akibat minum susu kambing juga lebih sedikit dibanding susu sapi.

Dalam penelitian modern diyakini bahwa komposisi nutrisi  dalam susu kambing lebih ideal dibandingkan dengan susu sapi , susu unta maupun domba . Jika anda minum untuk tujuan memenuhi kalsium dan sekaligus protein terbaik dan teraman adalah susu kambing.

4 thoughts on “SUSU KAMBING BUKAN SEMBARANG SUSU

  1. Dear Dokter
    Aku teringat pada hadits di bawah ini:
    “Kalian harus (minum) Susu Sapi, karena itu sebagai Obat. Demikian juga lemaknya adalah kesembuhan, dan hati-hatilah kalian terhadap daging Sapi karena itu ada penyakitnya.” [HR. al-Hakim:4/404] *

    Susu sapipun kita dianjurkan untuk meminumnya, bahkan lemaknya.
    Studi epidemiologis terhadap suku Masai, suku Rendille, suku Samburu di Afrika yang hampir-hampir hanya makan dari susu sapi, lemak ,daging, serangga, suku-suku ini tak mengenal adanya penyakit jantung dan obesitas, tekanan darah mereka juga rendah.

    Studi epidemiologis ini juga didukung oleh Metanalisis terhadap 21 penelitian terhadap lemak jenuh yang dipimpin oleh Siri Tarino.

    LEMAK JENUH TAK ADA HUBUNGANNYA DENGAN PENYAKIT JANTUNG DAN STROKE

    Ini adalah hasil studi yang diumumkan tahun 2010 bulan Maret di American Jurnal of Cinical Nutrition. Studi ini mengumpulkan 21 penelitian tentang lemak jenuh. Design studi adalah “follow up”, sebanyak 347,747 subjects diikuti selama 5-23 tahun. “…..tak ada bukti yang signifikan untuk menyatakan bahwa asupan lemak jenuh ada hubungan dengan penyakit jantung koroner dan stroke …..there is no significant evidence for concluding that dietary saturated fat is associated with an increased risk of CHD or CVD ”

    The pooled relative risk estimates that compared extreme quantiles of saturated fat intake were 1.07 for CHD, 0.81 for stroke, and 1.00 for CVD. ” Bila kita bandingkan mereka yang makan lemak jenuh terbanyak dengan yang tersedikit resiko penyakit jantungnya sama saja.”

    http://kesehatan.kompasiana.com/makanan/2013/12/29/lemak-jenuh-tak-ada-hubungan-dengan-penyakit-jantung-623581.html

  2. Dear Dokter

    Hadits yang aku kutip masih menyisakan tanda tanya di akhir kalimatnya ” ……….. hati-hatilah kalian terhadap daging Sapi karena itu ada penyakitnya.” [HR. al-Hakim:4/404]

    Nampaknya hadits ini membedakan antara “meat” dan “fat”
    Kalau kita makan daging tanpa lemak, kita akan merasa seperti makan kertas. Hambar. Ketakutan terhadap lemak sejak tahun 1980 an menjadikan kita dianjurkan agar makan daging tanpa lemak.

    Tetapi Hadits ini mengingatkan aku pada “Rabbit Starvation Syndrome”.

    Saat suku Indian di Amerika masih hidup berburu, namun binatang buruan yang besar-besar langka,mereka terpaksa makan buruan kecil seperti kelinci yang cadangan lemaknya tipis.. Suku Indian ini sering terkena sindroma “rabbit starvation.”

    Dalam sepekan mereka akan merasa .”…..sakit kepala, kelelahan, ketidaknyamanan samar-samar. Jika ada cukup kelinci, orang-orang makan sampai perut mereka buncit, tetapi tidak peduli berapa banyak mereka makan mereka merasa tidak puas” Mereka terlalu banyak makan daging tanpa lemak.
    http://backacrosstheline.blogspot.com/2007/09/rabbit-starvation-syndrome.html

    Para Mujahiddin di Afganistan saat bertempur mereka membawa lemak yang sudah dikeringkan di potong seperti dadu. Saat mereka mereka makan, lemak kering itu dipanaskan, dicairkan dicampur roti atau daging.

    Suku Indian Amerika juga hanya mengambil lemak dikeringkan dijadikan “pemmican”. Saat mereka berburu bison, seringkali dagingnya ditinggal atau dikasihkan pada anjing, lemaknya yang mereka ambil. Mereka belajar dari alam kalau terlalu banyak makan “lean meat” akan menjadi sakit.

    Dari dunia Bina Raga
    Karena daging sapi sudah dipisahkan dengan lemaknya maka diskusi kita tinggallah “lean meat” yang isinya mostly adalah protein.

    “When you eat too much protein, your body can become overwhelmed by the task of digesting it. Unlike fats, which are cleanly burned in your cells, your body will try to oxidize the excess protein in your liver. This produces several major toxins that can decrease your performance and damage your health.”

    Mungkin bermanfaat membaca “The Toxins in Meat Every Biohacker & Paleo Dieter Should Know”
    http://www.bulletproofexec.com/the-toxins-in-meat-every-biohacker-paleo-dieter-should-know/

    Semoga tulisan ini bisa mencerahkan betapa toxic nya “lean meat”, namun bila sudah dicampur dengan lemak mereka akan menyehatkan. Dan yang lebih penting lagi, berpeganglah pada yang jelas Qur’an dan Hadits.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s