BERHIDMAT DI IDUL ADHA

BERHIDMAT DI IDUL ADHA

Segala puji bagi Allah yang amat teguh kekuasaanNya, amat jelas bukti – bukti kebenaranNya, terbentang luas kedermawanan dan kemurahanNya, Maha Tinggi kemulianNya, dan Maha Agung kedudukanNya .

Hari ini tanggal 10 Dzulhijjah jutaan ummat Islam diseluruh pelosok negeri mendatangi masjid-masjid dan lapangan-lapangan untuk mengukuhkan kemaha besaran Allah, mengumandangkan takbir dan tahmid dengan hati khusyuk dan tawaadhu’, berharap akan rahmat Allah yang pada pagi ini bergelantungan diatas langit untuk dianugerahkan kepada hamba-hambaNya yang mendapat ridhoNya, yaitu hamba-hambaNya yang membesarkan namaNya .

Hari ini lebih dari 3 juta ummat Islam menjalani ritual ibadah haji ditanah suci . Mereka sedang napak tilas pengorbanan dua anak manusia yang dimuliakan Allah karena keteguhan tauhidnya yaitu Ibrahim dan Ismail a.s.. Pada hari ini ribuan tahun yang lalu telah terjadi pengorbanan yang mutlak dari dua orang hamba Allah untuk menunjukkan keyakinan yang bulat atas keesaan Allah, dan meneguhkan dirinya sebagai hamba yang rendah dihadapan Allah robbul ’alamin . Inilah hari dimana setiap Muslim harus bertanya kepada dirinya sudah sejauh mana ia berani berkurban memenuhi panggilan Ibrahim a.s.

Sebagai seorang muslim kita perlu bertanya kepada diri sendiri, seberapa besar pengorbanan yang sanggup kita lakukan untuk tegaknya kebenaran dibumi Allah ini, dan sejauh mana kita dapat dimasukkan kedalam jajaran orang yang beriman . Hendaknya kita berharap agar pada hari ini kita diberi petunjuk Allah SWT atas hasil muhasabah kita dan dengan berkurban kita dapat lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT .

Kurban hewan adalah ritual yang diperintahkan Allah untuk mengukur tingkat kebersediaan kita untuk menundukkan nafsu duniawi, nafsu ingin menguasai segala-galanya untuk memuaskan syahwat kita . Namun kesediaan berkurban hewan belumlah seberapa dibandingkan kesediaan Ibrahim dan Ismail a.s. untuk mempersembahkan yang terbaik dan terindah yang dimilikinya .

Sungguh pengorbanan mereka adalah pengorbanan terbesar dalam sejarah manusia yang dilakukan oleh mahluk kepada Sang Khalik . Berkurban adalah kewajiban sebagian besar dari kita . Meskipun ada saudara-saudara kita yang sebenarnya mampu berkurban dihari raya ini, mereka tidak melakukannya . Dalam hal ini Rasulullah SAW merasa prihatin dan bersabda :”barang siapa mampu berkurban namun tidak melakukannya, maka janganlah sekali-kali mereka dekat-dekat tempat sholatku”. Ini maknanya adalah bagi mereka yang mampu berkurban namun tidak melaksanakannya maka Rasulullah SAW enggan melihat wajahnya . Naudzu billahi min dzalik .

Perenungan kita tentang pengorbanan Ibrahim a.s. dan puteranya Ismail a.s.. Ujian pengorbanan kedua Rasul Allah ini sangatlah berat . Sejak muda Ibrahim telah menerima ujian-ujian besar terhadap ketauhidannya, sampai pada usianya yang telah mencapai hampir 100 tahun barulah ia mendapatkan keturunan yang diberinya nama Ismail . Bayi Ismail ditinggalkan oleh Ibrahim dan Ibrahim baru menemuinya lagi pada keadaan Ismail telah menjadi remaja, betapa gembiranya ketika dilihatnya Ismail sebagai remaja yang gagah perkasa, taat kepada ayah dan ibunya, mampu bekerja membantu Ibrahim mencari nafkah . Dengan tiba-tiba Allah SWT memerintahkan Ibrahim menyembelih putra kebanggaan yang baru didapatnya setelah lama diharapkannya.

Ali Syariati menggambarkan dalam bukunya:”Ismail tumbuh dibawah asuhan dan kasih sayang seorang ayah yang mengabdikan hidup demi puteranya . Bagi Ibrahim, Ismail adalah satu-satunya pohon yang tumbuh di kebun gersang milik petani tua, ia ingin menikmatinya setiap saat menjelang kematiannya” Ismail berbeda dari anak-anak lain karena kelahirannya telah didambakan ayahnya selama seratus tahun, dan karena kelahirannya tidak diduga-duga oleh ayahnya”.

Ismail adalah harapan, kecintaan, dan putera ayahnya . Dalam kenikmatan besar yang dirasakan Ibrahim atas kehadiran puteranya, maka dengan tiba-tiba Allah memerintahkannya agar ia menyembelih putera yang dicintainya itu . Betapa guncangnya jiwa Ibrahim kala itu, dan pemimpin besar tauhid itu gemetar dan goyah seakan hendak roboh, hatinya hancur dan dirinya terpojok antara kecintaan terhadap buah hatinya dengan kesetiaannya kepada Tuhannya . Inilah peperangan bathin terbesar yang dialami Ibrahim a.s., belum pernah dalam sejarah hidupnya ia merasakan keraguan yang luar biasa seperti kala itu . Keraguan itu juga ditiupkan oleh syetan yang mempengaruhi hati Ibrahim dengan menyusupi logika-logika berpikir insaniah Ibrahim , sehingga ia harus menunggu 3 X bermimpi sebelum sampai pada keputusan untuk mengungkapkan mimpinya itu kepada anaknya .

Dan disaat hendak menyampaikannya ia merasa ragu akan kesediaan anaknya, iapun merasakan betapa permintaannya itu akan mengejutkan anaknya . manusia macam apa aku ini seorang ayah hendak menyembelih anaknya yang ditunggu-tunggu kehadirannya setelah seratus tahun usianya . Rasionalitas maupun wahyu jelas-jelas menyatakan membunuh manusia adalah dosa besar apalagi membunuh anak sendiri . Namun atas ketaatannya yang mutlak kepada perintah Tuhannya, maka disampaikannya hal itu kepada Ismail .
Dalam sebuah dialog yang menggetarkan sebagaimana dijelaskan dalam surat As-Shoffat/37 : 102
berkatalah Ibrahim” wahai anakku sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu ?….” Ibrahim menyampaikan kata-katanya dengan cepat seolah-olah tak ingin mendengarnya, setelah itu ia membisu, wajahnya pucat, ia tidak mempunyai kekuatan menatap mata puteranya Ismail . Ismail menyadari gejolak hati ayahnya dan berusaha menenangkan hati ayahnya, lalu Ismail menjawab:

”wahai ayahku yang tercinta, kerjakanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu, insya Allah engkau akan menjumpaiku termasuk dalam kelompok orang yang sabar” .
Langit yang mengatapi bumi ini tidak tega menyaksikan dialog seperti ini, inilah percakapan antara anak dengan bapaknya yang sangat bersahabat namun mencekam . Dengan cepat Ibrahim mencabut pisaunya yang telah ditajamkan dan hendak menyembelih puteranya, ia ingin melakukannya dengan cepat karena tidak ingin berlama-lama merasakan kepedihan, adapun Ismail terbaring dengan tenang menanti perlakuan ayahnya . Namun Allah mencukupkan pengorbanan itu dengan menggantinya dengan domba yang besar, karena Allah memberikan nilai yang tinggi atas ketaatan Ibrahim dan puteranya Ismail a.s. Allah tidak menghendaki Ibrahim menyembelih Ismail seperti pengorbanan yang dilakukan banyak manusia kepada dewa-dewa . Allah tidak mengijinkan manusia dikorbankan untuk keperluan sesembahan mereka . Yang diinginkan dalam kurban adalah kesediaan untuk melepas dan mengalahkan segala sesuatu yang menghambat penghambaan manusia hanya kepada Tuhannya, sebagaimana firman Allah

”Sekali-kali tidak akan mencapai Allah daging-dagingnya, dan tidak juga darah-darahnya, tetapi yang dapat mencapai adalah ketakwaan kamu . Demikianlah Allah telah menundukkannya untukmu supaya kamu mengagungkan Allah atas hidayahNya kepadamu . Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik” (Q.S.: Alhajj: 37)
Demikianlah berkurban dalam perspektif Islam adalah merupakan perwujudan dari ketakwaan kita kepada Allah, dan bukanlah persembahan ataupun sesajian daging dan darah sebagaimana diyakini oleh kelompok tertentu . Tuhan dalam Islam adalah Sang penguasa tunggal yang senantiasa memberi tanpa batas, maha Pengasih dan Maha Penyayang, rahmatNya lebih luas dari langit dan bumi dan Dia senantiasa memilihkan yang terbaik bagi kehidupan mahlukNya . Kurban Ibrahim dan Ismail a.s. yang diakhiri dengan happy ending  telah memberi beberapa pelajaran bagi kita a.l.:
–    Bahwa Ibrahim adalah kekasih Allah yang pantas  dibanggakan sehingga Alqur’an membanggakannya dengan puji-pujian sebanyak 96 X
–    Ismail adalah gambaran anak yang telah dibesarkan oleh ibu-bapak yang mendidiknya dengan penuh tanggung jawab, ia adalah termasuk golongan Nabi ulil ’azmi yang tahan menghadapi ujian terberat dari Allah SWT, inilah cara mendidik anak yang benar yang harus menjadi contoh bagi para orangtua.

–    Hajar, ibunda Ismail, seorang budak hitam ethiopia yang karena besar jasanya maka Allah mengijinkan ia dimakamkan disamping baitullah pada hijir Ismail, tidak siapapun boleh dimakamkan disana kecuali Hajar perempuan luar biasa, ibu dari hamba Allah yang luar biasa, inilah contoh Ibu yang sejati yang patut dicontoh oleh para wanita Muslimah
–    Allah tidak pernah meminta pengorbanan berupa nyawa manusia . Kurban adalah dengan memotong hewan . Kurban adalah  manifestasi kekhalifahan manusia yang salah satu tugasnya adalah memelihara alam seisinya .
–    Kurban adalah ritual yang harus dimaknai secara filosofis sebagai simbol dari keberanian untuk mengorbankan segalanya demi mendekatkan diri kepada Allah, kata kurban sendiri dalam bahasa arab berarti mendekatkan diri .

Semoga kita semua termasuk orang-orang yang bersedia mengorbankan apa saja yang menjadi kecintaan kita di jalan Allah, dan semoga semangat Ibrahim dan Ismail a.s. selalu hidup dihati kita .

5 thoughts on “BERHIDMAT DI IDUL ADHA

  1. Sayangnya, sekarang banyak yang menyalahgunakan kata “Qurban” dan cenderung menjadikan orang-orang yang layak mendapat “qurban” menjadi “korban”😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s